Pengunjung

248584
Hari Ini
Kemarin
Bulan Ini
Bulan Lalu
Total
132
285
5291
9979
248584

IP: 54.224.60.122
Server Time: 2018-07-18 08:45:36

Lokasi

Alokasi dan Realisasi Anggaran

download file

RKT 2016

download file

RAK 2016

download file

Delapan Langkah Kesiapan Kemenkes Hadapi Virus H1N1

 

KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) RI melakukan berbagai kesiapan untuk mencegah penyebaran virus H1N1. Pasalnya, virus tersebut mudah menyebar di mana dan kapan saja, terutama di negara tropis seperti Indonesia.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan RI, Prof dr Tjandra Yoga Aditama SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE mengatakan, tentang persiapan atau antisipasi suatu negara, termasuk Indonesia untuk menghadapi kemungkinan virus-virus seperti ini dari luar negeri.

Maka sesuai prosedurnya, ada delapan langkah berstandar internasional yang dilakukan, yaitu sistem komando, surveilans, khususnya bila ada kasus cluster, hingga kesiapan laboratorium.

"Kami juga memiliki kesiapan penanganan kasus, kewaspadaan di port of entry (POE) sesuai prinsip IHR, koordinasi dengan pihak veteriner, komunikasi risiko, serta kerjasama internasional, baik melalui WHO maupun langsung dengan negara terjangkit, juga melalui mekanisme IHR," ujar Prof Tjandra.

Untuk antisipasi dini, saat ini Prof Tjandra meminta timnya untuk eveluasi data pola sirkulasi virus Influenza, sejak awal tahun 2015.

"Untuk antisipasi, hari ini Peneliti Laboratorium Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan saya minta evaluasi data. Berdasarkan data pola sirkulasi virus Influenza dari surveilans yang kita laksanakan, virus yang bersirkulasi adalah Influenza A (H1N1pdm09), Influenza A (H3N2), Influenza B," paparnya.

Dilaporkan, pada bulan Januari dan Februari 2015, virus yang dominan bersirkulasi adalah Influenza A (H3N2). Virus yang bersirkulasi di Indonesia ini berdasarkan karakterisasi genetik hingga sekuensing, sesuai dengan strain vaksin seasonal influenza yang direkomendasikan oleh WHO dan sampai saat ini belum ada virus Influenza A yang unsubtype.

 (Sumber : http://indohub.com/2015/03/16/delapan-langkah-kesiapan-kemenkes-hadapi-virus-h1n1/#)

SKRINING HIV/AIDS DI PELABUHAN LAUT KOTABARU

SKRINING HIV/AIDS

DI PELABUHAN LAUT KOTABARU

 

Penyakit HIV/AIDS merupakan salah satu penyakit yang patut mendapat perhatian kita semua baik pemerintah maupun masyarakat dikarenakan :

-        Mengakibatkan penurunan kualitas hidup penderita.

-        Penularan ekstensif karena masa inkubasi yang panjang.

-        Merupakan fenomena gunung es, kasus yang kita temukan merupakan sebagian kecil dari total kasus yang sebenarnya.

-        Berdampak pada kehidupan sosial masyarakat dan ekonomi negara.

Pada tahun 2008, di seluruh dunia, diperkirakan 33 juta orang hidup dengan HIV. Sejak awal epidemi HIV pada tahun 1981, 25 juta orang meninggal akibat AIDS. Setiap harinya terdapat 7.400 infeksi baru HIV, 96% dari jumlah tersebut berada di negara dengan pendapatan menengah ke bawah. Daerah subsahara di Afrika merupakan daerah dengan prevalens HIV terbesar, mencakup 67% dari jumlah keseluruhan orang yang hidup dengan HIV dan 75% dari jumlah total kematian akibat AIDS. Daerah Asia Tenggara, termasuk di dalamnya Asia Selatan, merupakan daerah nomor dua terbanyak kasus HIV dengan jumlah penderita 3,6 juta orang, 37% dari jumlah tersebut merupakan wanita. Indonesia merupakan satu dari lima negara dengan jumlah penderita HIV yang besar selain Thailand, Myanmar, Nepal, dan India. Di negara-negara ini, prevalens HIV tinggi di kelompok pekerja seks dan pasangannya, laki-laki yang berhubungan seksual dengan sesama laki-laki, dan pengguna obat suntik. Angka epidemi HIV di Indonesia cenderung meningkat dengan cepat sementara di negara lain justru stabil atau menurun.

Sejak tahun 2000, prevalensi HIV di Indonesia ditemukan mulai konstan di atas 5% pada populasi kunci, seperti pengguna napza suntik, pekerja seks, waria, LSL, sehingga  dikatakan Indonesia telah memasuki epidemi terkonsentrasi.

HIV pada berbagai populasi kunci tersebut adalah sebagai berikut: WPS langsung 10,4%; WPS tidak langsung 4,6%; waria 24,4%; pelanggan WPS 0,8% (hasil survey dari 6 kota pada populasi pelanggan WPS yang terdiri dari supir truk, anak buah kapal, pekerja pelabuhan dan tukang ojek, dengan prevalens berkisar antara 0,2%-1,8%); lelaki seks dengan lelaki (LSL) 5,2%; pengguna napza suntik 52,4%.

Permasalahan ini jika tidak ditangani dengan cepat maka tidak mustahil penularan HIV akan menyebar secara luas kepada masyarakat.

Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Banjarmasin ikut berperan aktif dalam upaya menurunkan dan mencegah penyebaran penyakit HIV/AIDS di Indonesia khususnya di wilayah Kalimantan Selatan dengan melaksanakan kegiatan sosialisasi dan skrining HIV/AIDS di wilayah pelabuhan.

Skrining HIV/AIDS dilaksanakan terhadap awak kapal yang datang dari luar negeri dan para pekerja seks komersial di wilayah pelabuhan. Kegiatan kali ini dilaksanakan di salah satu wilayah kerja KKP Kelas II Banjarmasin yaitu Wilayah Kerja Pelabuhan Laut Kotabaru yang banyak disinggahi oleh kapal-kapal yang bersal dari luar negeri. Kegiatan ini mendapat dukungan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kotabaru Provinsi Kalimantan Selatan.

Sampai saat ini kegiatan skrining HIV / AIDS bagi awak kapal dan pekerja seks komersial di pelabuhan sebanyak 30 orang yang sudah dilaksanakan dan masih terus dilaksanakan dalam upaya cegah tangkal terhadap penyakit menular di lingkungan Pelabuhan laut Kotabaru. Semoga kegiatan ini dapat membantu pemerintahdalam upaya pengendalian penyakit HIV/AIDS khususnya di Wilayah Kotabaru – Kalimantan Selatan.

Bravo KKP .......

 

 

 

 

Pengaduan Masyarakat

No messages!

Video

KKP Player


PopUp MP3 Player (New Window)